Connect with us

Seni & Budaya

‘Rohmantik Performance’ dan Diskusi Kitab Puisi Irman Syah di Sumbar

Published

on

Penyair Irmansyah

Eranusantara.com, Jakarta – Rohmantik Performance merupakan ramuan panggung puisi secara modern yang materialnya berangkat dari kekuatan tradisi seperti dendang, randai, kaba, gerak silat, serta tiupan bansi. Semua dikemas dalam pemanggungan kolaboratif yang unik dan komunikatif. Kadang penonton pun dapat hanyut dengan aliran pertunjukan dan bahkan terlibat mengarungi nada sambil mengikuti tempo musikal melalui rampak tepuk tangan. Begitu kata Irman Syah saat ditanya tentang apa itu Rohmantik Performance.

Dalam waktu dekat, pada 22, 23, dan 24 Februari mendatang, Irman Syah akan tampil dalam sebuah event yang disiapkan kawan-kawan komunitas di Padang dan Payakumbuh. Acara ini merupakan sebuah perhelatan kecll, terhadap Kitab Puisi Tunggal pertama Irman Syah setelah lebih dari lebih kurang 33 tahun berkarya, berjudul Rohmantik.

Sebuah diskusi buku puisi dan pementasan karya Irman Syah ini akan digelar di beberapa tempat, antara lain; Jumat (22/2) Komunitas Seni Intro Payakumbuh (Pimpinan Iyut Fitra) https://steemit.com/indonesia/@mpugondrong/silaturrahmi-komunitas-seni-di-payakumbuh dengan Pembicara Romi Zarman dan Yeni Puurnamasari , serta Dendang puisi bertajuk Boekan Tamoe Rohmantik Performance di Lawang Kafe (sebuah Kafe Baca yang menyenangkan di Payakumbuh) https://steemit.com/kopi/@mpugondrong/lawang-cafe-ngopi-baca-yang-menyenangkan

Pada keesokan harinya Minggu (23/2), diskusi Rohmantik dengan tajuk ‘Poelang Kampoes; Pulang ke Ragi’, Esha Tegar Putra ditabik sebagai pembicara. Diskusi dan Rohmantik Performance ini akan dilangsungkan pukul 20:00 di Kedai Teroka | sebuah Kedai Buku Aternatif, Jalan DR Moh Hatta No 16, Binuang, Kp Dalam, Pauh, Kota Padang. Selanjutnya, Senin (24/2) akan diadakan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Padang d kampus Limau Manis. Selain ini, untuk selanjutnya diskusi dan Rohmantik Performance juga akan direncanakan di Balai Balai Bahasa Sumatera Barat dan lainnya.

Irman Syah, selain dikenal sebagai penyair, juga aktor, blogger dan pekerja film. Ia beberapa kali menang dalam lomba penulisan puisi Indonesia di Padang, Malang dan Bali. Bahkan, salah satu cerpennya terpilih sebagai sepuluh terbaik pada ajang Mitra Praja Utama tingkat Nasional yang dilaksanakan Pemerintah DKI Jakarta tahun 2014 silam.

Kepenyairannya tercatat dalam beberapa buku dan leksikon, seperti; Sesuatu Indonesia (Afrizal Malna), Leksikon Sastra Jakarta (DKJ), Buku Pintar Sastra Indonesia (Pamusuk Eneste) dan Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (Korrie Layun Rampan).

Penggerak dan gerilyawan seni budaya ini dalam aktivitasnya tak lepas dari gerakan komunitas perkotaan antara lain; Komunitas Janjang Payakumbuh (1999), Komunitas Panggung terbuka TBSU Medan (2001), Komunitas TIM Jakarta (2003), Warung Apresiasi Bulungan Jakarta (2002), Komunitas Sastrawan Jalanan Indonesia (2005), Komunitas Planet Senen (2008), Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia, Sastra Kalimalang Bekasi (2011) serta Roemah Melajoe TMII (2015).

Lelaki yang juga acting coach (pelatih akting) di beberapa film layar lebar: “Di Bawah Lindungan Kakbah”, “Pacu Itik”, dan “Buya Hamka” ini juga seorang actor Film, antara lain; “Trophy Buffalo”, “Tasuruik”, “Pinokio”, dll. Keahliannya pada bidang ini sesungguhnya berakar dari kemampuan literasi yang dimilikinya. Selain alumni Fakultas Sastra Universitas Andalas, penulis puisi, esay dan cerpen, ia juga aktor dan penghuni Bumi Teater Padang, pimpinan Wisran Hadi.

Kembali ke Rohmantik, perhelatan kecil untuk kitab Puisi Irman Syah ini memang punya sejarahnya yang panjang. Mulai dari dialog-dialog dan alasan tersendiri bahwa tidak akan menerbitkan buku puisi tetap bertahan dan keputusan itu pun berlangsung cukup lama. Tapi sepuluh tahun kemudian, dengan beberapa kawan di Padang dan Payakumbuh soalan itu muncul lagi dan dialog pun sampai pada pembahasan dan pemetaan sastra Sumatera Barat.

Akhirnya, dari inisiatif beberapa kawan antara lain Ilham Yusardi, Fatris M Fais, Anafia Sakinah, yang notabene adalah generasi Fakultas Sastra Universitas Andalas dan Teater Langkah Unand, serta Indrian Koto yang juga punya andil untuk itu maka proses terciptanya Kitab Puisi ini pun berjalan. Artinya, untuk membukukan puisi ini, gagasan dan aplikasinya memang murni dari hasil sumbangsih yang luar biasa dari kawan-kawan dan berbagai pihak.

Demikian papar Irman Syah. Dan perhelatan kecil yang akan dilangsungkan di Payakumbuh dan Padang ini pun juga dikonsep olah kawan-kawan dan disupport olah berbagai komunitas dan kelompok seni, serta pengampu literasi di Sumatera Barat, imbuhnya lagi.

“Bila puisi sampai pada pucuknya, niscaya kan berbuah petuah, ungkapan, peribahasa, tamsil-ibarat, kias dan banding, pepatah-petitih, atau patah dan pitih!” kata Irman Syah mengakhiri sambil mengacungkan tangannya dan berkata, “Betmen Poreper.”

(Rell/Redaksi)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eighteen − 9 =

Advertisement
Advertisement

Facebook

Advertisement

EraChannel18

ERAINVESTIGASI

opini

Advertisement