Connect with us

ERA NEWS

Dampak Abrasi, Tepian Pantai Selat Morong Titiakar Butuh Perhatian

Published

on

Eranusantara.com, Bengkalis – Sejumlah titik jalan ditepi Pantai selat Morong, Desa Titiakar, memerlukan penanganan serius, hal ini disebabkan gelombang laut yang mulai mengikis sebagian badan jalan akibat tidak adanya penahan terjangan air laut, sehingga dikhawatirkan jika tidak segera ditangani bisa terputus. Ironisnya menurut penanganan pihak Desa, ternyata tidak bisa dilakukan secara parsial, tetapi harus lintas sektoral.

Batin Tiam selaku Ketua Batin Suku Akit Hatas, menyampaikan masalah terkait abrasi yang mengancam jalan di tepi Selat Morong Desa Titiakar, butuh penanganan khusus dan serius dari antar Dinas PU(Pekerjaan Umum) Bagian Perairan dan Dinas Pariwisata untuk dapat melihat kondisi ini, sehingga tidak parsial dan berkelanjutan. Karena pihak Desa juga belum dapat menangani selama belum ada penanganan menyangkut prihal abrasi oleh pihak terkait.

“Kenyataanya tanggul penahan gelombang yang ada juga tidak bisa menahan gelombang air laut, sebelumnya dahulu saat jalan dibangun sudah dihitung jarak terjauh dari titik pantai atau dititik aman, tetapi kenyataannya sekarang abrasi udah mendekati dan sedikit lagi jalan sudah terjangkau air laut pada saat air pasang laut naik,”jelasnya saat dijumpai di kediamannya, Senin, (25/11).

Saat ini ada beberapa bangunan tua yg tidak jauh dari tepian selat ini yaitu gedung Vihara Cinbukiong ,tempat Pemakaman warga dan Taman Cermin Kehidupan. Seandainya pengikisan terus berlanjut tempat atau gedung tersebut pasti terancam.

Bengguan Ketua Yayasan Vihara Cinbukiong amat-sangat berharap perhatian pemerintah Kabupaten agar dapat Abrasi pantai ini bisa cepat diatasi.

” semoga dapat dibangunnya tanggul penahan yang kuat dan tinggi dari daratan atau di bangun Turap supaya tidak terjadi pengikisan yang tambah parah karna tepian pantai yang berdepanan dengan Vihara sudah cukup parah oleh karna abrasi tadi ungkapnya ke awak media eranusantara.com saat dijumpai didepan Vihara.

Hanya saja tepian sudah terisi dengan pasir yang terbawa air laut maka tumbuhan tidak akan hidup, sehingga perlu ada rekayasa terlebih dahulu yakni dengan menyediakan media tanah seperti misalnya menggunakan paralon terlebih dahulu. Baru setelah bakau besar maka akan lebih tahan untuk meredam gelombang tersebut atau abrasi yang terjadi.

Dalam waktu dekat acara Cap Goh meh(Ulangtahun Adat Suku Akit dan Tionghoa) pada bulan Februari akan di laksanakan di Vihara Cinbukiong tersebut dan diselingi dengan Sunatan Massal yang diselenggarakan oleh pihak adat Suku Akit. Diacara tersebut akan hadir 10.000 orang undangan yang menghadiri,undangan tersebut bukan hanya dari pulau Rupat saja melainkan sampai dari Singapore dan Malaysia yang akan menghadiri Cap Goh meh tersebut.

Seluruh masyarakat Suku Akit dan Tionghoa berharap semoga pihak terkait untuk cepat mengurus Abrasi yang sudah terlalu parah,ditakutkan saat acara berlangsung akan merusak pandangan tidak bagus bagi tamu undangan dalam maupun luar negeri.

Putra

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 + twelve =

EraChannel18

Advertisement

ERAINVESTIGASI

opini

Advertisement
Advertisement