Connect with us

ERA CITIZEN CERDAS

Pendidikan itu Kata Kuncinya Keteladanan

Published

on

Guru bukan sekedar guru yang hanya mengajar pelajaran di kelas, tetapi sekaligus pendidik. Pendidikan itu kata kuncinya keteladanan, maka guru harus bisa menjadi sumber keteladanan bagi santri. Banyak guru yang bukan pendidik, karena hanya sekedar pengajar. Guru harus bisa menjadi sumber keteladanan bagi seluruh santri.

Simak dua hadis Rasul ini untuk bekal guru:

  • إنما بعثت معلما
    “Sesungguhnya aku diutus sebagai seorang guru.”
  • إن الله و ملائكته وأهل السموات واﻷرضين وحتى النملة في جحرها وحتى الحوت ليصلون على معلم الناس الخير

“Sesungguhnya Allah, malaikat-malaikat-Nya, seluruh penduduk langit dan bumi, bahkan semut yang berada di liangnya, bahkan karang di dasar lautan, semuanya bershalawat atas orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.”

Jadi, profesi kita sebagai guru dan pendidik ini adalah sama dengan yang dinyatakan sendiri oleh Rasul. Hakekatnya, tugas dan fungsi guru sama dengan tugas dan fungsi kenabian: mengajarkan kebenaran dan kebaikan dan mengajaknya untuk melakukannya.

Itulah mengapa ada ungkapan:

كاد المعلم أن يكون رسولا
Hampir saja, seorang guru itu menjadi seorang rasul.

Kemudian seluruh jagat bershalawat atas kita, artinya mendoakan kita. Shalawatnya Allah kepada manusia artinya maghfirah (ampunan), shalawatnya malaikat kepada manusia artinya memohonkan ampun kepada Allah untuknya. Maka, pekerjaan kita ini bukan saja terhormat dan mulia, tetapi juga beruntung. Bahkan, diberkahi!

Ada lima (5) jenis keteladanan yang harus dimiliki guru-guru kita: (1) ibadah; (2) akhlak; (3) keilmuan; (4) wawasan; (5) etos gerak.

Bagaimana guru beribadah itu yang akan direkam dan ditiru santri; shalatnya, puasanya, zakatnya, dzikirnya, bacaan Al-Qurannya, hafalannya, dan lain-lain. Maka, perbaiki dan tingkatkanlah semuanya itu. Darimana sahabat menyontoh ibadah jika bukan dari Rasul?

Bagaimana akhlak guru itu juga akan menjadi sumber keteladanan santri. Keseluruhan tingkah lakumu; cara makan, minum, berpakaian, berbicara, tidur, bahkan cara berpikirmu, semua itu akan dijadikan oleh santri sebagai sumber keteladanan. Maka, perbaikilah akhlak.

Keilmuan dan wawasan guru juga penting: anak-anak akan melihat dan merasakan apakah gurunya menguasai ilmu dan berwawasan atau tidak. Kalau guru ilmunya dangkal dan wawasannya sempit, output santri seperti apakah yang diharapkan? Termasuk etos gerak; jangan sampai ada guru klemar-klemer, tidak bersemangat, tidak bisa menggerakkan, maka itu akan menjadi contoh yang buruk.

Santri harus terus dipupuk dengan rasa kebanggaan-kebanggaan: pada dirinya sendiri sebagai santri, pada pondoknya dan kepada pengasuh serta guru-gurunya, juga kepada agama dan umatnya. Gunakan forum-forum tausiyah di kamar, kelas, masjid, rayon, bahkan di lapangan sekalipun, selipkan nilai-nilai kebanggaan itu. Jangan sampai ada santri minder menjadi santri, santri tidak bangga pada pondoknya, apalagi santri tidak bangga pada guru-gurunya. Sekarang ini banyak anak-anak sekolah tidak bangga pada sekolahnya dan guru-gurunya, bahkan melecehkan. Di pondok hal ini tidak boleh terjadi!

Saksikanlah bahwa kami adalah orang Muslim” (Qs. 3: 64), bukankah itu perintah Al-Quran?

Minder dan rendah hati itu beda. Yang pertama buruk, yang kedua baik. Kita didik anak-anak supaya rendah hati, tapi tidak minder. Maka, di pondok ini sistem dan polanya dibuat agar anak-anak tidak minder. Mereka dilatih tampil dari forum terkecil di kamar, di kelas, di asrama, di masjid, di aula dan seterusnya. Diberi ruang, tugas dan tanggungjawab untuk ikut berpikir, bertindak dan mengelola pondok ini: mengelola manusia! Ini tidak ada pelajarannya di kelas.

Bahkan, santri senior kelas V (2 SMA) dan VI (3 SMA) sudah mulai diberi tugas mengajar, menguji dan mengawasi ujian. Ini ruang yang kita berikan agar mereka bisa berekspresi dan berkreasi. Kreatifitas itu mahal, seperti mahalnya sebuah ide. Dan itu, tidak ada pelajarannya di kelas.

Slogan kita minggu ini: EVERYDAY WE MAKE CHANGES, WE MAKE IT THE BEST WE CAN. Ucapkan, gaungkan, dan gemuruhkan kepada santri sampai mereka betul-betul hafal dan mengerti. Lalu menjadi sikap hidupnya.

إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم
“Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah dirinya sendiri.”

Dinamis dan kreatif tapi santun dan berilmu harus menjadi ciri khas santri kita. Jangan ada yang klemar-klemer, cengengesan dan skeptis. Pondok ini ibarat seperti kandang singa, bukan kandang beri-beri. Harus mengaum!

“Qum fa andzir”; “Bangunlah, lalu berilah peringatan!”

SUKSES ITU HABIT! Sebagaimana saleh itu habit! Baik itu habit! Sebaliknya: gagal itu habit! Maksiat juga habit!

Jadi, jika orang terbiasa dengan habit sukses, maka sukses itu menjadi hal biasa baginya. Sebaliknya, jika habitnya habit gagal, maka kegagalan itu menjadi watak dan karakternya.

Di pondok, sistem dan tata nilainya didesain dengan habit sukses, habit saleh. Maka, sengaja 24 jam itu nyaris tidak ada waktu kosong. Jangankan kosong, waktu untuk santai-santai leha-leha saja tidak ada. Apa ada orang sukses yang hidupnya leha-leha? Dinamis, aktif, cepat, dan terampil.

Maka, kita tanamkan pada anak-anak bahwa SIBUK HARUS PRODUKTIF. Jangan sampai sibuk tapi tidak menghasilkan apa-apa! Mubadzir dan merusak!

Perhatikan, apa ada di pondok ini santri yang tidak sibuk? Kita ini mendidik calon pemimpin, bukan calon pengangguran!

Allah saja menyatakan Diri-Nya setiap waktu dalam kesibukan. “Setiap waktu Dia dalam kesibukan” (Qs. 55:29).

Makanya, doktrin kita kepada anak-anak bahwa istirahat itu bukan berhenti dari aktifitas, tetapi peralihan atau perpindahan dari satu aktifitas ke aktifitas lainnya. Itulah makna istirahat.menurut kita.
الراحة في تبادل الأعمال

Intinya, mendidik adalah how to touch: bagaimana caranya menyentuh. Bukan sekedar how to talk: bagaimana caranya berbicara.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

six − 1 =

EraChannel18

Advertisement

ERAINVESTIGASI

opini

Advertisement
Advertisement