Connect with us

Opini

Langkah Jokowi di Nilai Tepat Mengangkat Fachrul Razi Menjadi Mentri Agama

Published

on

Eranusantaracom – Lembaga advokasi & Kajian strategis indonesia.
Penulis : Azmi Hidzaqi (Kordinator LAKSI)

Eranusantaracom, Opini – Fachrur Razi merupakan salah satu menteri yang mendapat sorotan. Sebab, pertama kali sejak era reformasi, kementerianny yang menangani keagamaan di Indonesia dipimpin dari kalangan militer

Jenderal TNI (Purnawirawan) Fachrul Razi menjadi Menteri Agama periode 2019-2024. Penunjukan ini dipermasalahkan beberapa organisasi massa Islam. Namun di mata organisasi relawan pendukung Jokowi justru sebaliknya menyatakan dukungan penuh kepada Fahrul Razi untuk segera berkerja mewujudkan visi presiden di kabinet periode ke II ini, melalui siaran pers yang di sebarkan kordinator LAKSI Menyatakan langkah Jokowi memilih Fahrul Razi sudah tepat dan benar untuk mewujudkan Indonesia yang damai.

Fachrul Razi akan mampu memimpin kementrian agama ke arah yang lebih baik dan kami sangat optimis dengan track record beliau dan berbagai pengalaman tugas di kemiliteran akan mampu di kerjakan oleh Fachrul Razi, tidak di ragukan lagi bahwa Fachrul Razi adalah sosok militer yang religius dan sebagai jendral yang di kenal sangat banyak berkawan dengan para kiayi dan kalangan santri ini sehingga sangat mudah buat beliau berkomunikasi dengan semua kalangan,

Kemampuan beliau dalam menjalankan tugas negara sudah teruji beliau sosok yang enerjik dan tidak mengenal lelah dalam menjalankan tugas untuk membangun negeri tercinta ini. Oleh karena itu kami memandang Mentri agama akan dapat menjalankan program kabinet dengan sebaik-baiknya, kami berharap Fachrul Razi dapat mengejar kekurangan dan dapat memperbaiki citra kementrian agama pasca di tinggalkan Lukman Hakim Saefudin.

Adapun intruksi presiden yang di perintahkan kepada Fachrul Razi berkaitan dengan radikalisme, ekonomi umat, industri halal dan terutama haji berada di bawah beliau,” kami sangat yakin Mentri agama mampu mengkoordinasikan organisasi birokrasi di kementrian agama untuk mewujudkan visi pemerintahan Jokowi,

Fachrul Razi diminta Jokowi membangun susana damai, penuh kekompakan dan persatuan. Karenanya, Jokowi meminta dia bergabung dalam kabinet. “Jokowi sangat menghawatirkan bahwa belakangan ini potensi radikalisme cukup kuat, sehingga beliau berpikir Pak Fakhrul punya terobosan dalam kaitannya menangkal radikalisme, ” atas dasar itulah maka kami mengajak seluruh komponen masyarakat saling bahu membahu untuk membangun bangsa dari ancaman radikalisme.

Sebagai media online, ERANUSANTARA.com memberikan hak jawab dan hak koreksi kepada pihak yang merasa keberatan dengan informasi yang diterbitkan di media online ERANUSANTARA.com. Mekanisme pengajuan hak jawab dan hak koreksi mengacu pada ketentuan peraturan kode etik jurnalistik ERANUSANTARA.com dan UU No 40 Tahun 1999, tentang Pers.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 + thirteen =

Opini

Sudah Tepatkah Istilah Berdamai Dengan Covid-19 ?

Published

on

By

Wandre DP
Pemred Eranusantara.com

Beberapa bulan belakang, hampir seluruh negara diserang wabah mematikan. Virus corona atau covid-19 merenggut jutaan nyawa penduduk dunia dalam beberapa waktu terakhir. Khusus di Indonesia, tercatat hingga Kamis, (21/5), pemerintah sudah merilis 12.162 kasus covid-19 di tanah air.

Kamis, (21/5), hingga pukul 12:00 wib, tercatat jumlah kasus tertinggi dalam sehari sejak diumumkan kasus pertama pada 2 Maret lalu sebanyak 973 kasus. Dalam dua bulan berperang dengan wabah corona yang jelas merupakan musuh bersama, kini kita masyarakat Indonesia diajak untuk berdamai dengan virus mematikan ini. Yang menjadi pertanyaan, apakah telah hilang semangat juang bangsa yang dulunya mampu merdeka dari jajahan bangsa asing selama 350 tahun? Atau ini bentuk ketidak mampuan dalam mengatasi permasalahan yang ada.

Bangsa Indonesia adalah bangsa pejuang, para pahlawan mampu memerdekakan negara ini hanya dengan bermodalkan semangat dan sebilah bambu runcing. Kenapa hari ini, disaat kita mendapat perlawanan baru dalam waktu 2 bulan saja, kemudian kita harus berdamai dengan musuh. Indonesia disebut bangsa besar, memiliki segalanya, kenapa sekarang harus menyerah dengan penyederhanaan kata “Berdamai” dengan virus atau keadaan?

Anggaran telah dikucurkan dari berbagai sumber, bahkan anggaran negara dan daerah yang sudah jelas peruntukannya, kini dialihkan untuk penanganan wabah ini. Apa semua itu akan menjadi sia-sia? Tak hanya itu saja, dulu para pejuang kemardekaan menyuarakan bahwa mereka berjuang hingga titik darah penghabisan, sekarang apakah sudah tak ada lagi suara itu, apakah suara itu sudah dikubur dengan para pejuang yang telah gugur?

Tak usah saling cari kesalahan, pemerintah menyalahkan rakyat karena mereka tak mau dirumah, sebaliknya rakyat menyalahkan pemerintah akibat keputusan – keputusan yang dianggap tak sesuai. Bahkan bantuan sosial yang sumbernya juga dari uang rakyat dianggap tak tepat sasaran. Sudah,,, mari kita lanjutlan perjuangan jika memang ingin menang, jangan suarakan lagi perdamaian dengan musuh, jangan ajak rakyat untuk hidup berdampingan dengan wabah. Mari berkumpul, saling berkoordinasi, duduk bersama, terima semua masukan dan ambil keputusan besama-sama. Jangan lagi ada sifat sok pintar, sok tau, dan sok berkuasa. Dua bulan sudah cukup untuk membuktikan bahwa semua usaha dan peraturan yang dibuat tak berjalan dengan baik dilapangan. Mari cari solusi lain, jangan ajak rakyat berdamai dengan virus, jangan ajak rakyat hidup berdampingan dengan musuh.

Indonesia bukan bangsa yang suka menyerah, Indonesia adalah bangsa pejuang, jangan ajarkan Indonesia untuk mengalah dengan keadaan, apalagi virus. Kembalikan semangat rakyat, mari satukan kembali perbedaan selama ini, jadikan wabah ini sebagai sarana untuk menyatukan kembali NKRI.

Bangun Indonesia, Bangun NKRI, ini bukan masalah besar jika semua bersatu untuk mengatasinya. Jangan kemukakan kemiskinan, jangan jadikan kemiskinan sebagai alasan untuk menyerang pemerintah. Mari bangun, mari berjuang, mari saling bergandengan hingga titik darah penghabisan seperti yang dilakukan oleh para pahlawan dalam memardekakan negara ini.

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Facebook

ERAINVESTIGASI

opini

EraChannel18

Advertisement

Trending