Connect with us

ERA INVESTIGASI

Kucurkan Miliaran Rupiah, Pasar Central Keerom Masih Tak Dapat Difungsikan

Published

on

Eranusantara.com, Papua – Pembangunan Pasar Central Keerom yang berlokasi di antara Kampung Asyaman dan Yamua yang dimulai sejak tahun 2010 itu telah menghabiskan dana ratusan Milyar lebih. Namun hingga kini pasar tersebut belum juga difungsikan, nampak terbengkalai dan tak terurus.

Pemerintah Kabupaten Keerom lewat Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan pernah beberapa kali berencana untuk mengoperasikan pasar tersebut tetapi selalu gagal. Erasanusantara.com pernah dijanjikan oleh Kadis Koperindak, Marthen Simbon, bahwa pasar akan dibuka pada akhir tahun 2017, namun karena Dinas tidak mendapatlkan tambahan dana jadi tidak bisa merenovasi ruko-roko yang rusak. Kemudian dijanjikan lagi akan dibuka pada bulan Juli 2018, tetapi kembali gagal dengan alasan yang juga tidak jelas. Sampai sekarang pasar tersebut nampak terbengkalai dan tak terurus.

Memang setiap tahun ada kegiatan pembangunan di lokasi pasar dengan menambah beberapa fasilitas pendukung dan renovasi bagian-bagian pasar yang sudah rusak. Ada beberapa tokoh yang enggan namanya disebutkan mengatakan bahwa pasar central Keerom sengaja tidak difungsikan dan setiap tahun dijakan proyek oleh oknum-oknum pejabat tertentu. Misalnya ada penambahan geduang dan perbaikan gedung-gedung ruko yang rusak akibat kualitas gedung yang tidak baik.

Ketika Eranusantara.com meninjau bangunan-banguna di lokasi pasar, bebera ruko sudah pada rusak, misalnya pada plafor, pintu dan lantai yang pecah-pecah. Selain itu rumput menutupi hampir semua sisi lokasi pasar. Tahun 2018 Dinas mengalokasikan dana Rp. 14 Milyar untuk merenovasi bangunan ruko dan penambahan beberapa ruko baru, namun hingga bulan Juli 2019 pasar belum juga dioperasikan.

Pada tahun 2017 ruko-roku di lokasi pasar mulai dibagikan kepada warga, tetapi warga mengembalikan kunci ruko kepada dinas Koperindak karena ruko dalam kondisi tak layak pakai alias rusak dan bocor. Karena itu tahun 2018 dinas Koperindak melakukan renovasi ruko.

Setelah gagal beberapa kali untuk mengoperasikan pasar, pemda lewat dinas Perhubungan mengoperasikan terminal angkutan kota dan bus antar kota. Namun aktivitas angkutan umum di terminal yang berlokasi di pasar central Keerom itu tidak berlangsung lama dan kembali mati total. Menurut para pengusaha angkutan dan sopir mengatakan bahwa mereka berhenti beroperasi karena minim penumpang. Meskipun pemerintah memberikan dana stimulus Rp. 200.000 per kendaraan, namun akhirnya pengusaha dan sopir menghentikan operasionalnya di terminal.

Menurut warga, seharusnya pemerintah mengaktivkan pasar central terlebih dahulu, sehingga ada aktivitas jual beli, baru kemudian terminal diaktifkan. Jadi terminal dan pasar dibuka secara serentak. Selain itu, pemerintah juga harus mengatur waktu beroperasinya pasar, karena di hampir semua kampung ada pasar kampung. Jika pasar-pasar Kampung dibuka, maka siapa yang datang berjualan di pasar central? Karena itu, pemerintah harus mengatur waktu, pada hari apa pasar-pasar Kampung dibuka dan ditutup, sehingga hari lain dialokasikan untuk memobilisasi pedagang berjualan di pasar central.

Selama pasar-pasar Kampung tidak diatur waktu nya, maka pasar central akan macet. Untuk itu pemerintah harus membuat aturan atau kebijakan soal waktu operasional bagi pasar-pasar Kampung dan pasar Central.

Selain itu, masalah lain adalah lokasi pasar central kurang representatif dan terlalu jauh dari pemukiman warga, sehingga membutuhkan waktu dan biaya yang cukup tinggi untuk kelokasi pasar. Jika pasar-pasar kampung tidak diatur, maka warga akan tetap memilih berbelanja di pasar kampung ketimban pasan central.

(pet kadun)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

12 − 9 =

EraChannel18

Advertisement

ERAINVESTIGASI

opini

Advertisement
Advertisement