Connect with us

ERA 86

Sengketa Lahan; Kampung KB Disulap Jadi Lahan Sawit, Warga Menjerit!

Published

on

Eranusantara.com – sengketa lahan perkebunan yang sudah menahun tak kunjung selesai antara masyarakat dengan Koperasi Tani Sawit Indah. (Img/Redaksi)

ERANUSANTARA.com, Agam, SUMBAR – Banyak prestasi gemilang yang sudah diraih oleh Pemerintah kabupaten Agam, Sumatera Barat dalam membangun Agam menjadi salah satu kabupaten terbaik di Sumatera Barat. Salah satu program unggulan yang sudah meraih penghargaan ialah tentang program Keluarga Berencana (KB).

Jorong Tompek, Nagari Salareh Aia, kecamatan Palembayan kabupaten Agam merupakan pilot project pemerintah Agam untuk menjadikan jorong ini menjadi Program Kampung KB. Dan ini sukses dengan di pandangannya Jorong Tompek menjadi Kampung Keluarga Berencana pada tanggal 5 Agustus 2017 yang di resmikan oleh Indra Catri, Bupati Agam..

Namun sangat disayangkan, program ini tidak sesuai dengan kehidupan masyarakat Tompek yang rata-rata tingkat pendidikan, ekonomi dan kesejahteraannya jauh dari kata mapan. Salah satu penyebabnya adanya sengketa lahan perkebunan yang sudah menahun tak kunjung selesai antara masyarakat dengan Koperasi Tani Sawit Indah di nagari Salareh Aia, khususnya Jorong Tompek.

Baca Juga : Jadi DPO, Pelaku Pembacokan Wartawan Berhasil Dibekuk Polisi

Seperti yang disampaikan oleh Iron Maria Edi. S.IP, Walinagari Salareh Aia bahwa tujuan dari program KB ini untuk meningkatkan kualitas kesehatan dan kesejahteraan masyarakat Tompek.

Eranusantara.com – kabupaten Agam merupakan pilot project pemerintah Agam untuk menjadikan jorong ini menjadi Program Kampung KB. (Img/Dwi/Agam/Red)

“Sejak di canangkannya Jorong Tompek ini menjadi Kampung KB, seharusnya program pemerintah daerah sudah mengarah ke situ. Seperti kesehatan, pendidikan, pertanian, perkebunan dan yang lainnya yang sifatnya membangun karakter masyarakat setempat. Sudah ada program kesehatan dari pemerintah daerah seperti mengadakan penyuluhan penyuluhan melalui puskesmas, namun hanya sebatas itu. Perlu ditingkatkan lagi intensitas program pemerintah daerah disini, itu harapan kami, tapi satu satunya akses berupa jalan yang kondisinya saat ini perlu penanganan yang lebih serius, mungkin itu yang membuat instansi pemerintahan enggan datang kemari.” Ujar inyiak wali, panggilan sehari harinya, (15/10).

Namun hal berbeda diungkapkan Jefrianto, salah satu tokoh pemuda Tompek yang pernah menyuarakan aspirasi masyarakat Tompek melalui MPL (Masyarakat Peduli Lingkungan), banyak terjadi ketimpangan di Jorong Tompek ini.

Baca Juga : Di Duga Oknum Guru Main Tangan, Komite Lapor Ke Dinas Pendidikan

“Program Kampung KB ini tidak sesuai dengan harapan kami. Setelah dicanangkan, hingga saat ini tidak ada satupun wakil pemerintah daerah seperti dinas terkait yang turun ke lokasi kami. Dengan mengunggulkan program kesehatan, seharusnya Kampung KB bisa lebih sehat secara lingkungan dan fisik bagi masyarakatnya. Tapi coba kita lihat lingkungan kampung KB, sejak PT. PPR dibangun tahun 2005 silam, dan diubah menjadi lahan perkebunan sawit, kampung KB jauh dikatakan sehat. Limbah buangan dari PT. PPR(Perkebunan Pelalu Raya) sangat mengganggu. Baunya sangat menyengat yang jelas sangat mengganggu kesehatan kita. Belum lagi banyaknya masyarakat yang belum sadar tentang Mandi Cuci Kakus (MCK). Artinya program ini hingga saat ini tidak terlaksana dengan baik. Ditambah lagi sengketa lahan yang tiada ujungnya.” Ucap Anto.

Harapan besar tergantung pada peran pemerintah mulai dari nagari sampai daerah dan pusat. Masih banyak program yang tertunda yang harus segera direalisasikan agar kampung ini tidak terisolir dari dunia luar. Jangan jadikan kampung kami hanya ladang bisnis ladang sawit dan seremonial demi kepentingan tertentu. Semoga Pemda Agam terbetik nuraninya untuk fokus membangun kampung KB, lanjut Anto.


(Dwi/Agam/Red)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × 3 =

EraChannel18

Advertisement

ERAINVESTIGASI

opini

Advertisement
Advertisement