Connect with us

ERA NEWS

Insiden Tewasnya Penangkap Ikan, Walhi Sumbar Sebut Ini Kelalaian Pihak PLTU Teluk Sirih

Published

on

Mesin penghisap air laut milik PLTU Teluk Sirih dikawasan Pesisir Pantai Bungus, Teluk Kabung, Sumatera Barat
Yoni Candra Kepala Departemen Advokasi dan Kampanye Walhi Sumbar

Eranusantara.com, Sumbar – Insiden yang menewaskan seorang penangkap ikan dengan cara menombak di Pesisir Pantai Bungus, Teluk Kabung, Sumatera Barat pada hari Rabu 3 April 2020 lalu disinyalir tersedot mesin penghisap air laut milik PLTU Teluk Sirih.

Dari hasil laporan masyarakat sekitar, korban bernama qodri (24) yang diketahui hilang pada sore hari saat sedang melakukan aktivitas penangkapan ikan. Mendengar kabar tersebut warga yang berada di sekitar PLTU gegas mencari korban di sekitar aktivitas penangkapan ikan, namun tidak ditemukannya tanda-tanda korban. Setelah mencari beberapa lama, masyarakat yang ikut mencari baru mendapat pentunjuk korban tersedot mesin penghisap air laut milik PLTU Teluk Sirih yang biasa digunakan untuk pembangkit dengan cara menetralkan air laut menjadi air tawar.

Yoni Candra Kepala Departemen Advokasi dan Kampanye Walhi Sumbar Mengatakan hasil wawancara dengan warga sekitar, bahwa korban baru di temukan dalam bak penampung atau bejana (intake) milik PLTU Teluk Sirih sehari setelah dinyatakan hilang.

Korban sehari-hari berprofesi sebagai guru mengaji di pondok pesantren Dar El-Iman Padang. Korban menangkap ikan bersama rekannya, saat rekannya kembali usai melaksanakan sholat ashar korban tidak nampak lagi dan rekan korban bertanya pada warga sekitar dengan menyebutkan bahwasanya korban tadi berada di daerah selatan dekat PLTU Teluk Sirih, setelah warga dan rekan korban mencari, hanya ditemukan alat tangkap ikan yang korban gunakan.

Yoni Candra menuturkan hasil temuan Walhi Sumbar pipa yang digunakan PLTU Teluk Sirih untuk menyedot air laut tersebut berdiameter 200 cm atau setinggi orang dewasa di ujung pipa tersebut juga tidak dilengkapi dengan saringan atau alat pengaman sehingga saat mesin isap bekerja sangat mudah menyedoh apa saja yang berada dekat dengan pipa tersebut, selain itu di area pipa tersebut juga tidak ada tanda pentunjuk yang melarang maupun mengingatkan orang agar tidak mendekat di area pipa tersebut seperti plan maupun tanda-tanda peringatan yang lain, kejadian serupa tidak saja terjadi kali ini saja namun hampir setiap tahun. Pada tahun 2018 terdapat belasan penyu terjebak dalam bak penampungan yang terisap pipa PLTU Teluk Sirih.

Yoni Candra menegaskan, Pihak PLTU Teluk Sirih Harus bertanggung jawab atas meninggalnya qodri karena ini kelalaian pihak PLTU Teluk Sirih seperti yang ditegaskan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dalam pasal 359 yang berbunyi “Barang siapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain mati, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan paling lama satu tahun.”

Walhi Sumbar mendesak PLTU Teluk Sirih segera dievaluasi karena diduga tidak memiliki Amdal yang lengkap karena pada saat Walhi Sumbar mengakses pihak berwenang menyebutkan AMDAL PLTU Teluk Sirih tengah di revisi padahal PLTU Tersebut telah beroperasi sejak tahun 2013, karena jelas dalam dokumen AMDAl pada lampiran UKL/UPL terdapat aktivitas pemantauan yang dilakukan pertiga bulan. kalau seperti ini diduga tidak ada aktivitas pemantauan yang dilakukan pihak berwenang.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × 1 =

Advertisement
Advertisement
Advertisement

Facebook

EraChannel18

ERAINVESTIGASI

opini

Advertisement