Connect with us

ERA NEWS

Korban Pelecehan Seksual Anak Dibawah Umur Alami Depresi

Published

on

Eranusantara.com – Ilustrasi Depresi/Google.com

Eranusantara.com, Gorontalo – Pelecehan seksual anak dibawah umur yang terjadi di Kabupaten Gorotalo kasusnya kini sudah berjalan kurang lebih sepuluh hari. Menurut pihak keluarga, Korban yang berinisial RB saat ini mengalami depresi berat.

“Dia (korban) sampai saat ini masih trauma, kejadian tersebut membuatnya depresi. Jadi terpaksa kita bawa ke rumah sakit kemarin. Tapi, alhamdulillah beberapa hari dirawat, hari ini sudah bisa pulang. Walaupun dia (korban) belum mau tinggal di rumahnya,” Kata RD, selaku pihak keluarga kepada wartawan Eranusantara.com, Senin (10/6).

Walaupun sudah di izinkan pulang oleh pihak dokter namun Korban engan tinggal di rumahnya sendiri.
“Mungkin pengaruh trauma jadi dia (korban) belum mau tinggal di rumah nya,” Lanjut RD.

Tak hanya itu, kondisi korban saat ini menurut penejelasan pihak keluarga bahwa RB pasca kejadian yang menimpa dirinya agak sulit diajak bicara dan kebanyakan berdiam diri.

“Pasca kejadian itu, korban memang sulit di ajak bicara. Dan seringkali diam ketika di tinggal sendiri. Ada kemungkinan dia (korban) ini butuh penanganan lebih dari psikolog,” Unjar RD.

Sementara itu, Pekerja Sosial Perlindungan Anak Kabupaten Gorontalo Nurfatihah Idrus membenarkan bahwa Korban RB saat ini mengelami trauma, sehingga pihaknya terus mendampingi korban tersebut.

“Korban bukan depresi tapi trauma. Kami terus dampingi Korban melalui konseling dan terapi psikososial lainnya,” Jelas Nurfatihah.

Saat ini pihak Pekerja Sosial Perlindungan Anak Kabupaten Gorontalo terus melakukan upaya pemulihan pisikologisnya Korban. Dan juga siap mendampingi Korban RB disetiap dalam penyelesaian kasusnya di kepolisian sesuai amanat UU no. 11 tahun 2012 tentang sistem peradilan pidana anak bahwa, setiap kasus anak berhadapan dengan hukum wajib didampingi oleh pekerja sosial.

“Tugas kami mengusahakan kepentingan terbaik bagi anak, kami lebih fokus pada korban dan pemulihan kondisi psikologisnya. Tapi, kami terus berkoordinasi dengan pihak kepolisian terkait perkembangan kasus. Karena, kami wajib mendampingi anak disetiap tahapan baik kepolisian, kejaksaan hingga putusan pengadilan nanti,” Ungkap Nurfatihah.

Lanjut Nurfatihah bahwa kasus serupa banyak terjadi dengan usia anak yang berbeda-beda. Dan, rata-rata pelaku selalu orang terdekat dari anak itu sendiri.

“Kasus serupa sebenarnya sangat banyak dengan dan modus operasi yang beragam dengan usia anak berbeda-beda. Rata-rata pelaku orang terdekat anak.

Untuk tahun 2019 ini, ternyata sudah ada 26 kasus serupa yang terjadi dan ditangani oleh pihak Pekerja Sosial Perlindungan Anak Kabupaten Gorontalo. “Periode Januari-Juni sudah ada sekitar 26 kasus pencabulan/persetubuhan anak periode dibawah umur yang kami dampingi,” Pungkas Nurfatihah Idrus.

Eranusantara.com- Pelecehan seksual anak dibawah umur yang terjadi di Kabupaten Gorotalo kasusnya kini sudah berjalan kurang lebih sepuluh hari. Menurut pihak keluarga, Korban yang berinisial RB saat ini mengalami depresi berat.

“Dia (korban) sampai saat ini masih trauma, kejadian tersebut membuatnya depresi. Jadi terpaksa kita bawa ke rumah sakit kemarin. Tapi, alhamdulillah beberapa hari dirawat, hari ini sudah bisa pulang. Walaupun dia (korban) belum mau tinggal di rumahnya,” Kata RD, selaku pihak keluarga kepada wartawan Eranusantara.com, Senin (10/6).

Walaupun sudah di izinkan pulang oleh pihak dokter namun Korban engan tinggal di rumahnya sendiri.
“Mungkin pengaruh trauma jadi dia (korban) belum mau tinggal di rumah nya,” Lanjut RD.

Tak hanya itu, kondisi korban saat ini menurut penejelasan pihak keluarga bahwa RB pasca kejadian yang menimpa dirinya agak sulit diajak bicara dan kebanyakan berdiam diri.

“Pasca kejadian itu, korban memang sulit di ajak bicara. Dan seringkali diam ketika di tinggal sendiri. Ada kemungkinan dia (korban) ini butuh penanganan lebih dari psikolog,” Unjar RD.

Sementara itu, Pekerja Sosial Perlindungan Anak Kabupaten Gorontalo Nurfatihah Idrus membenarkan bahwa Korban RB saat ini mengelami trauma, sehingga pihaknya terus mendampingi korban tersebut.

“Korban bukan depresi tapi trauma. Kami terus dampingi Korban melalui konseling dan terapi psikososial lainnya,” Jelas Nurfatihah.

Saat ini pihak Pekerja Sosial Perlindungan Anak Kabupaten Gorontalo terus melakukan upaya pemulihan pisikologisnya Korban. Dan juga siap mendampingi Korban RB disetiap dalam penyelesaian kasusnya di kepolisian sesuai amanat UU no. 11 tahun 2012 tentang sistem peradilan pidana anak bahwa, setiap kasus anak berhadapan dengan hukum wajib didampingi oleh pekerja sosial.

“Tugas kami mengusahakan kepentingan terbaik bagi anak, kami lebih fokus pada korban dan pemulihan kondisi psikologisnya. Tapi, kami terus berkoordinasi dengan pihak kepolisian terkait perkembangan kasus. Karena, kami wajib mendampingi anak disetiap tahapan baik kepolisian, kejaksaan hingga putusan pengadilan nanti,” Ungkap Nurfatihah.

Lanjut Nurfatihah bahwa kasus serupa banyak terjadi dengan usia anak yang berbeda-beda. Dan, rata-rata pelaku selalu orang terdekat dari anak itu sendiri.

“Kasus serupa sebenarnya sangat banyak dengan dan modus operasi yang beragam dengan usia anak berbeda-beda. Rata-rata pelaku orang terdekat anak.

Untuk tahun 2019 ini, ternyata sudah ada 26 kasus serupa yang terjadi dan ditangani oleh pihak Pekerja Sosial Perlindungan Anak Kabupaten Gorontalo. “Januari-Juni sudah ada sekitar 26 kasus pencabulan/persetubuhan anak periode dibawah umur yang kami dampingi,” Pungkas Nurfatihah Idrus.

Bucok

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

opini

Advertisement

EraChannel18

Advertisement
Advertisement

ERAINVESTIGASI