Connect with us

Opini

ABRI Menggiring Gajah ke Hutan, Soeharto Melarang Pakai Senjata dan Diiringi Air Mata

Published

on

Eranusantara.com – sosok Presiden kedua RI Soeharto.

Presiden Soeharto selama 32 tahun ia memimpin Indonesia, dikenal sebagai sosok perhatian kepada banyak hal.

Eranusantara.com, Tokoh – “Agar hewan-hewan itu menurut dan tidak beringas, Soeharto menyarankan digunakannya perangkat bunyi-bunyian seperti terompet, kayu yang dipukul-pukul, kentongan dan sebagainya untuk menggiring gajah,” tulis Emil Salim dalam buku itu.

Ada cerita menarik terkait Presiden Soeharto selama 32 tahun ia memimpin Indonesia. Soeharto dikenal memberikan perhatian kepada banyak hal.

Termasuk kepada binatang, serta lingkungan mereka. Emil Salim, seorang mantan menteri di era Soeharto mengungkapkan kisah tentang Soeharto dan penggiringan kawanan gajah agar masuk kembali ke dalam hutan.

Emil Salim menuliskan kisah itu dalam buku “Pak Harto The Untold Stories” terbitan Gramedia, tahun 2012 lalu. Dalam buku itu Emil Salim mengatakan, peristiwa itu terjadi saat dia menjadi menteri yang mengawasi dan melestarikan alam. Tiba-tiba dia mendapatkan telepon dari Palembang.

Isi telepon tersebut menyatakan, para tentara yang ada di sana sedang bersiap-siap hendak menembak rombongan gajah yang “mengamuk”.

Kawanan gajah tersebut merusak kebun-kebun dari sebuah desa transmigrasi yang baru saja didirikan.

Mendapatkan laporan itu, Emil lantas mempelajarinya. Ternyata gaja-gajah yang hidup di hutan pedalaman Sumatera itu memang memiliki ritual, yaitu pergi ke laut setahun sekali untuk memperoleh garam. Jalan yang harus mereka lalui selalu sama. Sayangnya, jalan tersebut belakangan digunakan untuk membuat kebun, dan hal itu tidak diketahui oleh Dinas Transmigrasi saat itu.

Penduduk yang ketakutan itu kemudian meminta bantuan para tentara.
Emil Salim segera melaporkan peristiwa itu kepada Soeharto, Panglima ABRI saat itu Jenderal TNI Try Sutrisno. Soeharto pun segera melarang para tentara menembaki gajah-gajah tersebut. Soeharto meminta para anggota TNI agar menggiring gajah masuk hutan lagi melalui jalan lain yang tak melintasi desa.

“Agar hewan-hewan itu menurut dan tidak beringas, Soeharto menyarankan digunakannya perangkat bunyi-bunyian seperti terompet, kayu yang dipukul-pukul, kentongan dan sebagainya untuk menggiring gajah,” tulis Emil Salim dalam buku itu.

Mendapatkan perintah dari Soeharto, para anggota TNI pun segera melaksanakannya. Gajah-gajah itu berjalan dalam formasi.

Gajah-gajah betina berjalan di depan dan di belakang, anak-anak gajah berjalan terlindung di tengah-tengah rombongan. “Gajah-gajah jantan dewasa berjalan mondar-mandir ke depan dan ke belakang untuk mengawal seluruh rombongan mereka,” lanjut Emil Salim.

Usaha mereka ternyata membuahkan hasil. Gaja-gajah itu bisa kembali hutan. Saat gajah-gajah itu mendekati habitatnya, para anggota TNI yang mengawalnya sampai menitikkan air matanya. Soeharto pun tampak senang mendapatkan kabar itu. Soeharto lalu mengundang para tentara tersebut ke Bina Graha. “Pak Harto menyalami mereka satu persatu, termasuk yang pangkatnya terendah sekali pun, mengucapkan langsung terima kasihnya untuk tugas yang tak biasa itu,” tandas Emil Salim.

Fahad Hasan

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

opini

Advertisement

EraChannel18

Advertisement
Advertisement

ERAINVESTIGASI