Connect with us

ERA BISNIS

Teka-teki Garuda Mengkantongi Laba Bersih Rp11 M belum Terpecahkan

Published

on

Eranusantara.com – PT Garuda Indonesia
Berbincang soal anggaran PT. Garuda Indonesia, sama halnya seperti mengungkap situs sejarah Atlantis yang masih penuh dengan tanda tanya.

Eranusantara.com, Jakarta – PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) didirikan berdasarkan akta No. 137 tanggal 31 Maret 1950 dari Notaris Raden Kadiman. Anggaran dasar perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan Akta No. 35 tanggal 17 Mei 2018 dari Aulia Taufani, S.H.M.Kn., Notaris di Jakarta Selatan mengenai perubahan anggaran dasar perusahaan yang telah diterima dan dicatat di dalam Sistem Administrasi Badan Hukum Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia sesuai Surat No. AHU-AH.01.03-0214641 tanggal 8 Juni 2018. Berbincang soal anggaran PT. Garuda Indonesia, sama halnya seperti mengungkap situs sejarah Atlantis yang masih penuh dengan tanda tanya.

Berdasarkan data yang dihimpun Tim Investigator LJ, seperti diketahui, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) berhasil mencatatkan kinerja positif pada kuartal I 2019. Garuda Indonesia berhasil membukukan laba bersih (net income) sebesar USD 19,7 juta atau sekitar Rp 275,8 miliar. Angka ini tumbuh signifikan dari periode yang sama tahun lalu saat perseroan masih membukukan rugi sebesar USD 64,3 juta atau sekitar Rp 900 miliar.

Manajemen GIAA mengklaim pertumbuhan laba tersebut sejalan dengan peningkatan pendapatan usaha perseroan yang tumbuh sebesar 11,9 persen menjadi USD 1,09 miliar. Namun, angin segar ini tidak membawa kabar gembira untuk GIAA sendiri. Pasalnya, dua anggota komisaris yang merepresentasikan kepemilikan saham Chairul Tanjung di PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA), menolak laporan keuangan perseroan tahun 2018. Mereka adalah Chairal Tanjung dan Donia Oskaria, yang mewakili porsi saham sebesar 28,08 persen.

Berbalik dengan manajemen Garuda Indonesia, yang mengklaim laporan keuangan tahun buku 2018 sudah sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK). Termasuk keputusan perseroan, untuk memasukkan pendapatan lain-lain yaitu kompensasi atas income hak pemasangan peralatan layanan konektivitas dan hiburan dalam pesawat dan manajemen konten senilai USD 239,94 juta.

Sebab laporan keuangan itu telah diaudit secara independen dan mendapatkan opini wajar tanpa pengecualian. Karena Garuda pada 2018 membukukan keuntungan USD 809.846 atau setara Rp 11,5 miliar. Berbanding terbalik dengan kinerja keuangan 2017 yang rugi sebesar USD 216,582 juta atau setara Rp 3,7 triliun.

Hal ini pun manjadi perbincangan hangat di ruang publik, hingga banyak sekali pakar akuntan membahasnya. Kabar terakhir, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pun bakal memanggil pihak Garuda Indonesia untuk klarifikasi lebih lanjut.

Tak ketinggalan publik pun ikut menyoroti, Garuda Indonesia akhirnya raup cuan, setelah rugi beruntun malah menjadikan teka-teki. Sehingga minimbulkan pertanyaan publik yang belum terpecahkan.

Misalnya, dari perombakan komisaris dan direksi, kemudian dua komisaris menolak LK, BPK BEI akan panggil BUMN, serta kontradiksi manajemen Garuda Indonesa terhadap Chairul Tanjung dan Donia Oskaria karena selisih pendapat. Hal ini terkesan dramatis di mata publik, karena menjadi tungguan, di mana para pakar auditor ikut berperan mengklarifikasi teka-teki ini.

Fahad Hasan _ Redaksi

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

opini

Advertisement

EraChannel18

Advertisement
Advertisement

ERAINVESTIGASI