Connect with us

ERA Teknologi

Pengaruh Negatif Kemajuan Teknologi, 19 Anak di Bawah Umur Kecanduan Seks

Published

on

Eranusantara.com – Ilustrasi, Kemajuan Teknologi pada kaum millenial.

Eranusantara.com, Jabar – Perkembangan teknolohgi yang semakin menonjol di kalangan generasi millenial rupanya dapat mempengaruhi sisi negatif pada anak di bawah umur. Hal ini terjadi di Cipeuteuy, Garut, Jawa Barat. Pasalnya 19 anak yang masih berumur 6 hingga 12 tahun diduga kecanduan Seks gara-gara sering menonton video porno.

Menurut Ketua RW Cipeuteuy, Syarif Hidayat, sebagaimana dilansir dari VIVA.co.id, saat ini kondisi ke 19 anak tersebut sangat parah. Mereka sering mempraktekkan adegan-adegan seperti di dalam video porno.

Sebagai orang yang dituakan di Cipeuteuy, Syarif berharap anak-anak tersebut segera bisa disembuhkan, agar tidak menular ke anak-anak kampung yang lain.

Baca Juga : Capital Expenditure Di Tahun 2018, Laba Telkom Melorot Hingga Rp30 Triliun

“Kami berharap anak-anak ini bisa disembuhkan,” kata Syarif, Minggu (14/4).

Agar perilaku anak-anak tersebut tidak semakin meluas, Unit Perlindungan Perempuan dan Anak, Satreskrim Polres Garut terus mendalami kasus itu. Sejumlah saksi terus dimintai keterangan, siapa pelaku utama yang telah meracuni anak-anak tersebut.

Baca Juga : Bangun Pembangkit Listrik, Kembali PLN Terbitkan Global Bond

“Pada prinsipnya, kami sebagai penyidik ingin mengungkap penyebab awal sebagai pelaku, karena anak-anak ini hanya sebagai korban,” kata Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Garut, Aipda Cecep Wawan Rustandi, Sabtu (13/4).

Konten Pornografi Merusak Otak Manusia

Menurut pengamat sosial Sailendra JN, anak-anak memasuki usia rentan ketika berumur 8 sampai 13 tahun. Pada usia ini, keingin tahuan mereka terhadap hal-hal yang baru begitu kuat, apalagi hal-hal yang baru tersebut bisa diakses dengan mudah melalui smratphone, sekali klik, anak-anak bebas berselancar. Apabila orang tua tidak waspada, lepas kontrol, akan sangat mudah anak-anak terjerumus.

Hal yang paling membahayakan, kata dia, ketika anak-anak terjerembab pada konten bermuatan pornografi. Bila si anak terperangkap dengan jenis konten seperti itu, lambat laun akan merusak otak.

” Ini yang harus diwaspadai, ini salah satu bentuk teror budaya yang bisa merusak anak-anak bangsa ini. Pornografi secara umum adalah visual yang memuat eksploitasi konten seksual. Dan saat ini banyak bertaburan di internet. Bila anak-anak sudah terbiasa mengkonsumsi konten-konten pornografi, akan menyebabkan otak tidak berfungsi. Ini yang harus di waspadai. Kasus yang terjadi di Garut ini harus menjadi warning bagi kita semua untuk menyelamatkan anak-anak bangsa ini,” kata Sailendra.

Diungkapkan Sailendra, orang tua harus jeli bila melihat gejala-gejala aneh pada anak yang kecanduan konten pornografi.

” Anak  yang kecanduan pornografi, bisa dilihat dari ciri-ciri keanehan dalam berperilaku, semisal dia lebih suka mengurung diri di kamar dan menghindari berinteraksi dengan orang lain. Dia akan lebih asyik dengan gadget. Selain itu, dia sudah mulai kehilangan gairah untuk melakukan aktifitas misalnya malas sekolah, tidak bersemangat dan bahkan hilang nafsu makan. Dan yang lebih membahayakan lagi anak sering kehilangan konrol dan cepat emosi,” jelasnya.

” Ada terapi agar anak tidak kecanduan pornografi. Beri edukasi dengan memberi penjelasan dampak buruk yang akan terjadi jika sering mengkonsumsi konten pornografi. Sadarkan perlahan-lahan, tidak bisa instan, perlu kesabaran ekstra. Dan ingat, jangan menghakimi. Tak kalah penting adalah ciptakan lingkungan yang kondusif, beri motivasi agar lepas dari kecanduan pornografi. Dekatkan diri dengan mereka. Bila menunjukkan kemajuan, beri apresiasi. Dan ajak untuk melakukan hal-hal yang positif yang membuat mereka senang,” pungkasnya.

Sumber : Strategi.co.id

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement