Connect with us

Seni & Budaya

Perguruan Talago Biru Berkontribusi Menduniakan Seni Beladiri Silek

Published

on

Eranusantara.com – Perguruan silek Talago Biru. (Img/E/Red)

ERANUSANTARA, BukitTinggi, Sumbar – Perguruan silek Talago Biru tak asing ditelinga kalangan para pendekar silek. Tak hanya dikenal di Sumatra Barat, bahkan Perguruan Talago Biru dikenal hingga manca Negara. Berdiri sejak, 4 April 1987 oleh Afrizal Chan, Talago Biru sudah memiliki 12 cabang perguruan silek, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Bahkan, Talago Biru ikut memberikan kontribusi hingga ilmu beladiri silek mendunia.

‘’Saya jadi heran, kok bisa ya berkembang sampai ke luar? Saya syukuri proses menuju keberhasilan perguruan silek ini diawali ketika saya sudah berusia 13 tahun. Mempelajari silek dari guru silek, Angku Sutan Mahyudin, lalu kepada Angku Palimo Basa serta Angku Palimo Dirajo. Saya kolaborasikan semua jurus yang didapat, maka lahirlah perguruan silek Talago Biru. Saat ini, murid saya sudah ada yang menjadi guru besar di beberapa perguruan, baik dalam maupun luar negeri. Saat ini ada 55 orang anak murid saya yang berhak memegang amanah serta mengajarkan silek tradisi minangkabau aliran taralak,’’ungkap Afrizal Chan pada lanjutan Silek Arts Festival 2018 di Bukitinggi.

Festival Silek Tradisional di Bukittinggi berlangsung 27-29 November 2018 lalu di lapangan Kantin Bukittinggi. Ada ratusan pendekar silek yang ambil bagian. Bahkan ada peserta dari luar negeri, seperti Singapura, Malaysia, Amerika Serikat, Brunei Darussalam dan Inggris.

‘’Bagi kita, suatu kebanggaan atas keikutsertaan para pesilat luar negeri. Maka memberi motivasi buat para peserta festival Silek tradisional Lewat festival inilah membangkitkan bakat-bakat yang selama ini hanya bisa dilakukan di perguruan, kini bisa lewat festival. Indonesiana ikut andil dalam memberikan ruang untuk memajukan kebudayaan,’’ ungkap Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan yang diwakili Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat.

Suarman, juga mengharapkan langkah awal mencintai silek akan memicu semangat masyarakat dalam mempromosikan kepada khalayak ramai, baik melalui festival maupun kegiatan penunjang lainnya. Indonesiana telah menjalankan UU No 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Perguruan Talago Biru antusias dengan adanya kegiatan Silek Arts Festival. Bagi pria kelahiran Kotogadang 4 April 1952 silek sudah bagian hidupnya. Keberhasilan dalam memimpin perguruan silek tentu mencakup dalam tiga aspek yakni kerohanian, seni budaya dan beladiri.

Aspek kerohanian tentu berkaitan bagaimana anak murid memahami tentang agama. Sementara, melalui Seni budaya minangkabau serta beladiri, ingin menunjukkan bahwa silek akan terus ada dengan filosofi menghargai sesama.

‘’Perguruan Talago Biru berfalsafah luruih bana saba lillah yang mengartikan keteguhan di jalan lurus untuk selalu menegakkan kebenaran dan bersabar. Di samping itu metode latihan di Talago Biru melalui setiap tingkatan. Setiap tingkatan memiliki materi yang berbeda,’’ jawab Afrizal Chan dengan semangatnya.

Dia juga menjelaskan bahwa ada tingkatan sabuk dalam Talago Biru yaitu putih, kuning, merah polos, merah strip satu, merah strip dua, hitam polos, hitam strip satu, hitam strip dua, hitam bis putih serta hitam bis merah kuning. Cabang perguruan antara lain di Kabupaten Agam, Bukittinggi, Padang, Kepulauan Riau, Batam, Jakarta, Lampung, Palembang, Jambi, Pekanbaru, Bekasi dan Kairo Mesir.

Perguruan Talago Biru juga memiliki tujuan untuk mengembangkan silek tradisi agar lebih dikenal. Festival silek melalui flatform Indonesiana tentu ingin keterlibatan perguruan silek punya budaya yaitu silek minang. Silek ada di minang sampai kini secara tak langsung andil perguruan silek.


(Eko K/BukitTinggi/Red)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

opini

Advertisement

EraChannel18

Advertisement
Advertisement

ERAINVESTIGASI