Connect with us

Sinematografi

Membuka Ruang Diskusi, Tingkatkan Pengetahuan Dalam Lingkup Perfilman Sumbar

Published

on

Eranusantara.com – Acara Simposium Film berskala nasional. (img/Juni/Mahasiswa Unand,Padang)

ERANUSANTARA.com, Padang, SUMBAR – Simposium Film berskala nasional, kembali di gelar Andalas Film Festival, dalam agenda membuka ruang diskusi sekaligus sarana untuk berbagi pengetahuan seputar perfilman.

Laporan dari pihak kepanitian, Pergelaran ini telah berlangsung mulai dari tanggal 22 Oktober 2018 kemarin dan akan berakhir pada tanggal 25 Oktober 2018 mendatang.

Melalui Koordinator Simposium Affest, Muhaimin Nurrizqy, mengungkapkan bahwa simposium kali ini mencoba melihat peta perfilman Sumatera Barat.

“ya, baik dari produksinya, apresiasinya, dan distribusi pengetahuannya,” Tegasnya.

Baca Juga : Pergelaran Festival Film 2018, Affest Rangkum 165 Judul Film Di Seluruh Indonesia

Rizqy juga menambahkan, Adapun tema yang dihadirkan pada setiap panel itu berbeda-beda. Dalam panel pertama kita mengangkat tema “Melihat Film Sumatera Barat”, dengan menghadirkan Panelis Heri Sasongko (akademisi), Adi Osman (kritikus film) dan Findo Bramata (penggiat film). Sedangkan pada panel berikutnya akan mengangkat tentang Komunitas Film Kampus dan Perayaan Film Sumbar serta Produksi Pengetahuan film.

Dalam pembahasannya pada tema “Melihat Film Sumatera Barat”, Heri Sasongko mengangkat sebuah ulasan tentang “Manifestasi Spirit Mandeh Masih Menjadi kekuatan film lokal minangkabau”.

“lima sutradara film pendek lokal asal Sumatera Barat adalah perempuan. Menurutnya, hal tersebut membuktikan bahwa sosok perempuan sudah terlihat eksistensinya dan aktif berkarya dalam menghasilkan film-film yang berkualitas, meskipun masing-masing sutradara punya konten yang berbeda,” Ungkapnya.

Heri menambahkan, Peningkatan produksi film di Sumatera Barat tidak hanya secara kuantitas, tetapi secara kualitas juga harus ditingkatkan, karena film yang berkualitas tidak hanya berasal dari pembuat film, tetapi juga ke penontonnya. Adapun  stimulus perkembangan film di sumatera Barat saat ini adalah kemajuan teknologi yang memudahkan untuk memproduksi film. Selain itu, ekosistem perfilman di Sumatera Barat tercipta dengan adanya beberapa penyelenggara festival film, baik yang berskala regional maupun nasional yang setiap tahunnya terus mengalami peningkatan jumlah produksi dan animo pesertanya. Selain itu, ada juga elemen-elemen yang melakukan pergerakan dalam perfilm, baik yang sifatnya formal maupun nonformal, profit ataupun nonprofit.

Baca Juga : 20 Judul Film Lulus Kurasi Dalam Andalas Film Festival 2018, Yuk Cek Daftarnya!

Sedangkan berbeda hal dengan yang disampaikan langsung oleh, Adi Osman, dengan bercermin pada tahap perkembangan generasi muda dalam berkarya, Adi lebih memaparkan pengetahuan perfilman tertuju pada kaum pelajar. Dengan mengangkat judul “Film Pelajar Sumbar dari Beberapa Corong”.

“bahwa tema keseharian seperti praktik bertelepon genggam pintar tidak muncul pembahasannya dalam film-film karya pelajar Sumbar. Salah satu penyebabnya, kata Adi, mereka belum membaca atau bertemu perkembangan perfilman. Hal tersebut dikarenakan belum adanya kesempatan atau ruang yang menstimulus praktik intelektual itu. Atau film pelajar Sumbar belum sadar dengan keadaan sekitar,” Tutupnya.


Penulis: Juni (Mahasiswa Universitas Andalas, Padang)

(Rizki/Red)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement